Hikmah Ibnu Athaillah #17
أَنْتَ إِلَى حِلْمِهِ إِذاَ أَطَعْتَهُ أَحْوَجُ مِنْكَ إِلَى حِلْمِهِ إِذاَ عَصَيْتَهُ “
Engkau lebih membutuhkan belas-Nya ketika taat ketimbang ketika melakukan maksiat.”
Waspadailah dirimu saat ketaatan sedang meliputimu. Sebab, godaan sering kali begitu besar. Betapa banyak orang yang merasa bangga dengan ketaatannya hingga merendahkan ketaatan orang lain. Padahal, berbangga diri membuat ikhlas “tercuri”. Setiap amal menjadi tipuan diri. Sikap seperti ini tanpa disadari telah mencemari. Butuh kesadaran untuk bersegera pada pengampunan-Nya. Meski dalam kesabaran-Nya senantiasa tersedia kesempatan. Di satu sisi, rasa hina dan rendah diri akibat kemaksiatanmu kepada-Nya membuat rahmat-Nya begitu dekat kepadamu. Engkau terjaga dari kemungkinan sombong dan berbangga diri. Sehingga, engkau senantiasa berhati-hati dalam menjaga perilakumu di hadapan-Nya.
Manusia berpikir bahwa dia lebih membutuhkan belas kasih Allah ketika bermaksiat kepada-Nya. Allah Swt. menyembunyikan tiga hal dalam tiga hal;
Pertama, Dia menyembunyikan ridha-Nya dalam ketaatan. Karena itu, janganlah meremehkan sedikitpun ketaatan, barangkali di dalamnya terdapat ridha Allah.
Kedua, Dia menyembunyikan kemurkaan-Nya dalam kemaksiatan. Karena itu, janganlah meremehkan kemaksiatan sedikit pun, barangkali di dalamnya terdapat kemurkaan Allah.
Ketiga, Dia menyembunyikan wali-Nya di antara para hamba-Nya. Maka janganlah meremehkan seorang hamba pun, barangkali dia adalah wali Allah Swt. Seorang hamba bisa dalam kondisi taat dan bisa pula dalam kondisi maksiat. Karena manusia hanya mempunyai empat kondisi; taat atau maksiat dan kenikmatan atau cobaan. Tidak ada kondisi kelima. Saat manusia dalam kondisi taat, dia harus terus menetapinya. Sedangkan saat dalam kondisi maksiat, ia harus bertaubat. Saat dalam kondisi nikmat, ia harus bersyukur. Sedangkan dalam kondisi cobaan, ia harus bersabar.
Saat manusia menaati Tuhan, ia membutuhkan belas kasih Allah. Kenapa ia membutuhkan belas kasih Allah? Karena saat hamba berada dalam ketaatan, terkadang ia tidak ikhlas, terkadang niat kita tidak murni karena Allah Swt. Dalam kisah penulisan kitab al-Muwatha’, amirul mukminin berkata kepada Imam Malik, “Wahai imam darul hijrah, tulislah kitab untuk kami yang menghimpun keringanan-keringanan Ibnu Abbas, kerasnya Ibnu Umar, dan kelembutan Ibnu Mas’ud.” Saat beliau selesai menulis kitab al-Muwatha’, amirul mukminin meminta izin padanya untuk mencetak beberapa copy untuk dibagikan kepada orang-orang Anshar. Namun Imam Malik khawatir kalau ia menulis kitab tersebut tidak murni karena Allah Swt. Imam Malik pun meminta agar kitab al-Muwatha’ diletakkan di atas atap Ka’bah selama setahun penuh, yaitu dari musim haji ke musim haji berikutnya. “Jika ada satu hadits, satu halaman, atau satu pendapat yang hilang, itu berarti tanda ketidakikhlasan. Akan tetapi jika selama satu tahun penuh masih utuh, berarti itu menunjukkan adanya keikhlasan,” katanya. Setelah satu tahun penuh kitab tersebut dijemur di bawah terik matahari, diterpa angin, dan tertimpa perubahan musim, ternyata kitab al-Muwatha’ tetap seperti sedia kala, sempurna tanpa cacat sedikitpun. Malik pun memperkanankan amirul mukminin untuk mencetak beberapa copy dari kitab al-Muwatha’ dan dibagikan kepada orang-orang Anshar.
Saat manusia menaati Allah, ia membutuhkan belas kasih Allah supaya ketaatannya diterima. Kata ulama, “Shalat itu bagaikan budak perempuan yang dihadiahkan kepada raja.” Mungkinkah engkau memberikan hadiah raja budak yang cacat, lumpuh, atau buta? Artinya, apakah mungkin kita shalat di hadapan Allah Azza wa Jalla seperti burung yang mematuk makanan? Seperti yang dilihat oleh Rasulullah Saw. pada orang yang shalat dengan gerakan secepat flash, Rasul berkata kepadanya, “Shalatlah kembali, karena kamu belum shalat!” Orang itu kembali melakukan shalat dengan kecepatan semula. Rasul pun berkata lagi, “Shalatlah kembali, karena kamu belum shalat!” Setelah kali yang ketiga, dan ia mengaku hanya itu yang bisa ia lakukan, Rasul bersabda, “Jika kamu melaksanakan shalat, bertakbirlah, kemudian bacalah ayat al-Quran yang mudah bagimu, kemudian ruku’lah hingga kamu thuma’ninah (tenang) dalam keadaan ruku’, kemudian bangkitlah hingga lurus berdiri, kemudian sujudlah hingga kamu thuma’ninah dalam keadaan sujud, kemudian duduklah hingga kamu thuma’ninah dalam keadaan duduk, lakukanlah itu pada seluruh shalatmu. Jika kamu tidak melakukannya, kamu telah tertipu.” Yakni, kamu menipu dirimu bahwa kamu telah melakukan shalat. Persoalan ini membutuhkan keikhlasan dan kebenaran, seperti kata Umar ra., “Ya Allah, aku memohon amal yang paling ikhlas dan paling benar.” Mereka bertanya, “Apa yang paling ikhlas dan paling benar, wahai amirul mukminin?” Beliau menjawab, “Yang paling ikhlas adalah yang dikerjakan semata-mata karena Allah Azza wa Jalla, tidak karena seorang pun. Sedangkan yang paling benar adalah yang sesuai dengan tuntunan al-Kitab dan as-Sunnah.”.
"Engkau lebih membutuhkan belas-Nya ketika taat ketimbang ketika melakukan maksiat". Saat manusia berbuat maksiat kepada Allah Azza wa Jalla, kemudian menyadarinya dan bergegas bertaubat, ia tahu bahwa Allah telah menjaganya. Ia menyesal dan malu. Ia merasa hina dan lemah. Akhirnya ia mulai mengerjakan amal shaleh. Firman Allah, “Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah orang-orang yang lemah.” Jadi pertolongan Allah akan datang saat hamba merendahkan diri kepada Allah. Atau seperti yang dikatakan, “Kemaksiatan yang menyebabkanmu merasa hina di sisi Allah itu lebih baik daripada ketaatan yang menimbulkan rasa sombong.” Saat seorang hamba menaati Tuhannya, ia tidak boleh kagum dengan ketaatannya. Tapi saat ia shalat, berpuasa, atau berbuat baik, ia perlu khawatir kalau amal-amalnya tidak diterima oleh Tuhan. Saat hamba berdosa kemudian mulai bertaubat, di sini ia pasrah terhadap ampunan Allah. Ibnu Atha’ dalam doanya yang terkenal berkata, “Wahai Tuhanku, harapanku terhadap-Mu saat berdosa mengalahkan harapanku terhadap-Mu saat beramal, karena ketika beramal aku tergantung pada diriku sendiri, padahal aku terkenal suka melakukan kesalahan, sedangkan dalam hal dosa aku pasrah pada-Mu, karena Engkau terkenal dengan sifat belas kasih.”
"Engkau lebih membutuhkan belas-Nya ketika taat ketimbang ketika melakukan maksiat”. Ketika melakukan maksiat, kita pasrah pada kemurahan Allah, karena Dia Maha Pemurah, kita tergantung pada ampunan Allah, karena Dia Maha Pengampun, dan kita tergantung pada belas kasih Allah, karena Dia Maha Belas Kasih. Jadi, sadarilah sifat-sifatmu, maka Allah akan memberimu sifat-sifat-Nya. Jika engkau menyadari kehinaanmu, Allah akan memberimu kemuliaan-Nya. Jika engkau menyadari dosa-dosamu, Allah akan memberimu ampunan-Nya. Jika engkau memastikan kelemahanmu, Allah akan memberikan kekuatan-Nya. Adapun jika engkau bersifat seperti Qarun dengan berlagak, “Sesungguhnya aku diberi kekayaan murni karena ilmuku.”, atau beraliran Fir’aun dengan mengatakan, “Aku punya begini, begini, dan begini.”, atau bermadzhab Iblis dengan berkata, “Aku lebih baik dari si anu.” orang-orang seperti ini taubatnya tidak sah, karena ia masih mempunyai banyak cacat, banyak dosa-dosa hati. Padahal dosa-dosa hati bisa memadamkan cahaya batin.
Kita mohon kepada Allah agar menerima ketaatan-ketaatan kita, dan mengampuni dosa-dosa kita, karena Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.
أَنْتَ إِلَى حِلْمِهِ إِذاَ أَطَعْتَهُ أَحْوَجُ مِنْكَ إِلَى حِلْمِهِ إِذاَ عَصَيْتَهُ “
Engkau lebih membutuhkan belas-Nya ketika taat ketimbang ketika melakukan maksiat.”
Waspadailah dirimu saat ketaatan sedang meliputimu. Sebab, godaan sering kali begitu besar. Betapa banyak orang yang merasa bangga dengan ketaatannya hingga merendahkan ketaatan orang lain. Padahal, berbangga diri membuat ikhlas “tercuri”. Setiap amal menjadi tipuan diri. Sikap seperti ini tanpa disadari telah mencemari. Butuh kesadaran untuk bersegera pada pengampunan-Nya. Meski dalam kesabaran-Nya senantiasa tersedia kesempatan. Di satu sisi, rasa hina dan rendah diri akibat kemaksiatanmu kepada-Nya membuat rahmat-Nya begitu dekat kepadamu. Engkau terjaga dari kemungkinan sombong dan berbangga diri. Sehingga, engkau senantiasa berhati-hati dalam menjaga perilakumu di hadapan-Nya.
Manusia berpikir bahwa dia lebih membutuhkan belas kasih Allah ketika bermaksiat kepada-Nya. Allah Swt. menyembunyikan tiga hal dalam tiga hal;
Pertama, Dia menyembunyikan ridha-Nya dalam ketaatan. Karena itu, janganlah meremehkan sedikitpun ketaatan, barangkali di dalamnya terdapat ridha Allah.
Kedua, Dia menyembunyikan kemurkaan-Nya dalam kemaksiatan. Karena itu, janganlah meremehkan kemaksiatan sedikit pun, barangkali di dalamnya terdapat kemurkaan Allah.
Ketiga, Dia menyembunyikan wali-Nya di antara para hamba-Nya. Maka janganlah meremehkan seorang hamba pun, barangkali dia adalah wali Allah Swt. Seorang hamba bisa dalam kondisi taat dan bisa pula dalam kondisi maksiat. Karena manusia hanya mempunyai empat kondisi; taat atau maksiat dan kenikmatan atau cobaan. Tidak ada kondisi kelima. Saat manusia dalam kondisi taat, dia harus terus menetapinya. Sedangkan saat dalam kondisi maksiat, ia harus bertaubat. Saat dalam kondisi nikmat, ia harus bersyukur. Sedangkan dalam kondisi cobaan, ia harus bersabar.
Saat manusia menaati Tuhan, ia membutuhkan belas kasih Allah. Kenapa ia membutuhkan belas kasih Allah? Karena saat hamba berada dalam ketaatan, terkadang ia tidak ikhlas, terkadang niat kita tidak murni karena Allah Swt. Dalam kisah penulisan kitab al-Muwatha’, amirul mukminin berkata kepada Imam Malik, “Wahai imam darul hijrah, tulislah kitab untuk kami yang menghimpun keringanan-keringanan Ibnu Abbas, kerasnya Ibnu Umar, dan kelembutan Ibnu Mas’ud.” Saat beliau selesai menulis kitab al-Muwatha’, amirul mukminin meminta izin padanya untuk mencetak beberapa copy untuk dibagikan kepada orang-orang Anshar. Namun Imam Malik khawatir kalau ia menulis kitab tersebut tidak murni karena Allah Swt. Imam Malik pun meminta agar kitab al-Muwatha’ diletakkan di atas atap Ka’bah selama setahun penuh, yaitu dari musim haji ke musim haji berikutnya. “Jika ada satu hadits, satu halaman, atau satu pendapat yang hilang, itu berarti tanda ketidakikhlasan. Akan tetapi jika selama satu tahun penuh masih utuh, berarti itu menunjukkan adanya keikhlasan,” katanya. Setelah satu tahun penuh kitab tersebut dijemur di bawah terik matahari, diterpa angin, dan tertimpa perubahan musim, ternyata kitab al-Muwatha’ tetap seperti sedia kala, sempurna tanpa cacat sedikitpun. Malik pun memperkanankan amirul mukminin untuk mencetak beberapa copy dari kitab al-Muwatha’ dan dibagikan kepada orang-orang Anshar.
Saat manusia menaati Allah, ia membutuhkan belas kasih Allah supaya ketaatannya diterima. Kata ulama, “Shalat itu bagaikan budak perempuan yang dihadiahkan kepada raja.” Mungkinkah engkau memberikan hadiah raja budak yang cacat, lumpuh, atau buta? Artinya, apakah mungkin kita shalat di hadapan Allah Azza wa Jalla seperti burung yang mematuk makanan? Seperti yang dilihat oleh Rasulullah Saw. pada orang yang shalat dengan gerakan secepat flash, Rasul berkata kepadanya, “Shalatlah kembali, karena kamu belum shalat!” Orang itu kembali melakukan shalat dengan kecepatan semula. Rasul pun berkata lagi, “Shalatlah kembali, karena kamu belum shalat!” Setelah kali yang ketiga, dan ia mengaku hanya itu yang bisa ia lakukan, Rasul bersabda, “Jika kamu melaksanakan shalat, bertakbirlah, kemudian bacalah ayat al-Quran yang mudah bagimu, kemudian ruku’lah hingga kamu thuma’ninah (tenang) dalam keadaan ruku’, kemudian bangkitlah hingga lurus berdiri, kemudian sujudlah hingga kamu thuma’ninah dalam keadaan sujud, kemudian duduklah hingga kamu thuma’ninah dalam keadaan duduk, lakukanlah itu pada seluruh shalatmu. Jika kamu tidak melakukannya, kamu telah tertipu.” Yakni, kamu menipu dirimu bahwa kamu telah melakukan shalat. Persoalan ini membutuhkan keikhlasan dan kebenaran, seperti kata Umar ra., “Ya Allah, aku memohon amal yang paling ikhlas dan paling benar.” Mereka bertanya, “Apa yang paling ikhlas dan paling benar, wahai amirul mukminin?” Beliau menjawab, “Yang paling ikhlas adalah yang dikerjakan semata-mata karena Allah Azza wa Jalla, tidak karena seorang pun. Sedangkan yang paling benar adalah yang sesuai dengan tuntunan al-Kitab dan as-Sunnah.”.
"Engkau lebih membutuhkan belas-Nya ketika taat ketimbang ketika melakukan maksiat". Saat manusia berbuat maksiat kepada Allah Azza wa Jalla, kemudian menyadarinya dan bergegas bertaubat, ia tahu bahwa Allah telah menjaganya. Ia menyesal dan malu. Ia merasa hina dan lemah. Akhirnya ia mulai mengerjakan amal shaleh. Firman Allah, “Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah orang-orang yang lemah.” Jadi pertolongan Allah akan datang saat hamba merendahkan diri kepada Allah. Atau seperti yang dikatakan, “Kemaksiatan yang menyebabkanmu merasa hina di sisi Allah itu lebih baik daripada ketaatan yang menimbulkan rasa sombong.” Saat seorang hamba menaati Tuhannya, ia tidak boleh kagum dengan ketaatannya. Tapi saat ia shalat, berpuasa, atau berbuat baik, ia perlu khawatir kalau amal-amalnya tidak diterima oleh Tuhan. Saat hamba berdosa kemudian mulai bertaubat, di sini ia pasrah terhadap ampunan Allah. Ibnu Atha’ dalam doanya yang terkenal berkata, “Wahai Tuhanku, harapanku terhadap-Mu saat berdosa mengalahkan harapanku terhadap-Mu saat beramal, karena ketika beramal aku tergantung pada diriku sendiri, padahal aku terkenal suka melakukan kesalahan, sedangkan dalam hal dosa aku pasrah pada-Mu, karena Engkau terkenal dengan sifat belas kasih.”
"Engkau lebih membutuhkan belas-Nya ketika taat ketimbang ketika melakukan maksiat”. Ketika melakukan maksiat, kita pasrah pada kemurahan Allah, karena Dia Maha Pemurah, kita tergantung pada ampunan Allah, karena Dia Maha Pengampun, dan kita tergantung pada belas kasih Allah, karena Dia Maha Belas Kasih. Jadi, sadarilah sifat-sifatmu, maka Allah akan memberimu sifat-sifat-Nya. Jika engkau menyadari kehinaanmu, Allah akan memberimu kemuliaan-Nya. Jika engkau menyadari dosa-dosamu, Allah akan memberimu ampunan-Nya. Jika engkau memastikan kelemahanmu, Allah akan memberikan kekuatan-Nya. Adapun jika engkau bersifat seperti Qarun dengan berlagak, “Sesungguhnya aku diberi kekayaan murni karena ilmuku.”, atau beraliran Fir’aun dengan mengatakan, “Aku punya begini, begini, dan begini.”, atau bermadzhab Iblis dengan berkata, “Aku lebih baik dari si anu.” orang-orang seperti ini taubatnya tidak sah, karena ia masih mempunyai banyak cacat, banyak dosa-dosa hati. Padahal dosa-dosa hati bisa memadamkan cahaya batin.
Kita mohon kepada Allah agar menerima ketaatan-ketaatan kita, dan mengampuni dosa-dosa kita, karena Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar